Kereta hibrid HYBARI bertenaga hidrogen-baterai yang dikembangkan JR Easr (International Railway Journal)

East Japan Railway Company (JR East) melakukan uji coba kereta hibrid bertenaga hidrogen-baterai pada akhir Februari 2022 lalu. Kereta hibrid yang dinamai HYBARI ini merupakan hasil pengembangan JR East, bekerja sama dengan dua manufaktur besar Jepang, Hitachi dan Toyota.

Dalam proyek pengembangan kereta hibrid yang bernilai mencapai 4 Miliar Yen ini, Hitachi ambil bagian untuk mengembangkan sistem penggerak hibrid, termasuk konverter tenaga dan baterai yang digunakan untuk menyimpan tenaga yang dikembangkan bersama JR East, sedangkan Toyota mengembangkan sel bahan bakar atau sumber tenaga (gasoline cell) “Mirai” miliknya yang digunakan pada produk mobil listriknya serta gasoline cell “Sora” yang digunakan pada produk bus listriknya, untuk diimplementasikan dalam penggunaannya di kendaraan rel atau kereta.

Uji coba ini dilakukan untuk menilai keamanan dan efisiensi kereta hibrid ini saat dioperasikan. HYBARI dapat melaju hingga kecepatan 100 km/jam dan dapat menempuh jarak 140 km dalam sekali pengisian hidrogen bertekanan tinggi, yang ditampung di tangki hidrogen pada kereta.

Cara kerja kereta hibrid ini terbilang unik, dimana hidrogen sebagai sumber tenaga disalurkan ke gasoline cell dan menciptakan reaksi kimia dengan oksigen untuk membangkitkan listrik, yang kemudian digunakan untuk mengisi daya baterai kereta. Selain menyimpan listrik yang dihasilkan reaksi kimia pada gasoline cell tersebut, baterai juga menyimpan daya hasil pengereman regeneratif yang dikonversi menjadi energi listrik. Setelahnya, energi listrik yang tersimpan pada baterai, bersama dengan energi dari gasoline cell, digunakan untuk menggerakkan motor traksi sehingga roda kereta dapat bergerak dan kereta dapat melaju.

JR East sedang mencari opsi untuk mengganti 440 unit kereta rel diesel (KRD) miliknya di masa mendatang, dan menyadari bahwa hidrogen dapat dijadikan bahan sumber tenaga alternatif yang tidak banyak memerlukan perangkat dan instalasi tambahan dalam implementasinya, alih-alih melakukan elektrifikasi pada jaringan jalur KA yang belum terelektrifikasi, utamanya pada jalur KA di space pedesaan dan pedalaman yang tentunya lebih efisien dan menguntungkan.

Namun demikian, Direktur Pusat Riset JR East, Shoichi Ozumi, mengatakan bahwa biaya penggunaan relatif hidrogen tetap lebih tinggi jika dibandingkan dengan bahan bakar diesel. Menurutnya, perusahaan KA harus berkolaborasi dengan otoritas lokal untuk berbagi sumber daya hidrogen dengan moda transportasi lainnya yang juga sedang menggali potensi teknologi baru ini. Jika serangkaian pengembangan dan uji coba ini berhasil, JR East mentargetkan kereta hibrid ini dapat mulai dioperasikan secara reguler dan komersial pada tahun 2024 mendatang.

Cemplus by Animefeed