KKN di Desa Penari telah menjadi fenomena tersendiri di Indonesia. Berawal dari sebuah utas horor dari seorang pengguna Twitter yang menamakan dirinya @SimpleM81378523 atau Simpleman, kisah ini kemudian viral besar-besaran hingga menjadi perbincangn di mana-mana. Kemudian belakangan kisah ini juga diadaptasi menjadi novel, dan kemudian diadaptasi menjadi film. Adaptasi filmnya belakangan sempat bermasalah di mana perilisannya harus diundur berkali-kali akibat pandemi, hingga akhirnya benar-benar bisa dirilis 30 April 2022, dan kini mendulang kesuksesan besar, dan menjadi film Indonesia tersukses sepanjang masa yang telah ditonton hingga lebih dari 8 juta orang dalam waktu tak lebih dari sebulan setelah penayangannya. Sebenarnya film macam apakah KKN di Desa Penari ini?

KKN di Desa Penari ini adalah sebuah thread cerita yang beredar di media sosial Twitter yang pertama kali di-posting pada akhir Juni 2019 lalu. Thread ini menceritakan kisah enam orang mahasiswa yang sedang melakukan KKN demi kelulusannya di sebuah daerah di Jawa Timur. Enam orang tersebut adalah Widya, Ayu, Nur, Bima, Wahyu dan Anton. Pada tahun 2009, mereka berenam melakukan proker KKN ini di sebuah desa terpencil yang berada di tengah hutan, yang di mana desa itu masih menyimpan adat nenek moyang mereka terhadap “dunia lain”. Dari suatu kejadian aneh yang menarik perhatian Widya, kemudian kejadian tersebut mulai menimpa anggota KKN lain dan para warga yang ada di desa tersebut.

Versi film dari KKN di Desa Penari ini digarap oleh sutradara Awi Suryadi yang pernah membuat film trilogi horror DANUR. Dalam menggarap film KKN di Desa Penari sendiri, Awi Suryadi nampak mencoba untuk “setia” dalam mengadaptasi utas dari Simpleman ini, bahkan mungkin bisa dibilang terlalu setia secara harfiah. Hampir semua adegan-adegan di film ini adalah interpretasi langsung dari utas Simpleman, cuitan demi cuitannya. Tidak ada usaha untuk “menerjemahkan” cuitan-cuitan utas tersebut menjadi sebuah alur film yang jelas. Karenanya banyak adegan demi adegan yang terasa melompat satu sama lain, dan ini akan membingungkan orang-orang yang belum pernah membaca utas KKN di Desa Penari di Twitter Simpleman.

Film ini juga nampak sangat bergantung pada adegan-adegan jumpscare yang mengejutkan. Banyak sekali adegan-adegan yang akan mengejutkan dari tiap-tiap menitnya. Namun sebagai sebuah film horor, di luar banyaknya adegan jumpscare tersebut, film ini tidak benar-benar menakutkan, apalagi sampai membuat bulu kuduk berdiri. Tentu saja hal ini agak mengecewakan sebagai sebuah film horor. Desain para hantu, siluman, dedemit, atau zombie yang ada di film ini pun juga tidan nampak menakutkan. Nampak satu-satunya hal yang menakutkan di sini hanya jumpscare, jumpscare, dan jumpscare saja. Film ini tidak akan benar-benar memacu adrenalin, apalagi menaikkan bulu kuduk para pecinta horor kelas berat (meski tetap saja penulis tidak akan menonton film ini sendirian di jam 3 pagi).

Satu lagi hal yang agak janggal dalam film ini adalah pembagian penggunaan bahasa Indonesia dan Jawa. Dalam utas Simpleman sendiri memang banyak dialog-dialog yang ditulis bergantian antara bahasa Indonesia dengan bahasa Jawa. Namun penggunaan bahasa di film ini terasa agak janggal di mana para karakter mahasiswa yang berasal dari kota nampak sering sekali berbahasa Jawa ketika berbicara satu sama lain, sementara para penduduk desa terpencil tersebut malah terdengar lebih sering berbahasa Indonesia saat berbicara dengan para mahasiswa. Sebenarnya hal ini wajar-wajar saja ketika penduduk desa berbicara dengan bahasa Indonesia ketika berbicara dengan para mahasiswa. Anggap saja hal itu adalah formalitas ketika berbicara dengan orang asing. Nyatanya para penduduk desa pun juga masih berbahasa Jawa ketika berbicara satu sama lain. Namun menjadi kembali mengganjal ketika sosok Badarawuhi sang “siluman” penunggu desa malah berbicara bahasa Indonesia, sementara pada mahasiswa KKN berbicara bahasa Jawa. Lebih mengganjal lagi ketika melihat Badarawuhi justru berbahasa Jawa ketika tengah merasuki Widya, sementara ketika tampil dengan wujud aslinya malah berbahasa Indonesia. Jujur, atas segala kelebihan dan kekurangan film KKN di Desa Penari, masalah bahasa Inilah yang paling mengganggu penulis ketika menontonnya.

Pada akhirnya, kisah para mahasiswa yang nyaris terjebak ke isekai dalam film KKN di Desa Penari ini mungkin kurang berhasil memuaskan para penikmat horor maupun insan-insan maso yang gemar uji nyali (meski sekali lagi, penulis tetap saja tidak akan menonton film ini sendirian di jam 12 malam, apalagi jam 3 pagi). Meskipun begitu, Awi Suryadi dan para timnya berhasil memvisualisasikan setting desa gerbang isekai tersebut dengan cukup akurat dan apik, lengkap dengan sinematografi yang menawan, dan tatanan suara yang cukup nampol. Akting Adinda Thomas, Tissa Biani, Calvin Jeremy juga cukup memuaskan, dan terutama bagi para penggemar aktor lawas legendaris Diding Boneng, inilah momen ketika aktor yang terkenal sebagai polisi hingga garong di film-film Warkop ini kembali tampil di layar lebar. Bagi para penggemar Diding Boneng, tentu jangan sampai melewatkan momen kembalinya sang aktor di layar perak dalam film KKN di Desa Penari ini. Meski ya itu tadi, rasanya mengganjal ketika Diding Boneng yang sudah berakting dengan apik sebagai Mbah Buyut sang tokoh sesepuh desa berbicara dalam bahasa Indonesia, sementara para mahasiswa KKN malah berbahasa Jawa.

DIDING BONENG! Mungkin beliau lah salah satu alasan kenapa kamu harus nonton film ini

Satu lagi yang perlu diingatkan, dan mungkin perlu diingatkan berkali-kali bagi yang belum sempat menonton filmnya: JANGAN MENONTON FILM INI SEBELUM MEMBACA TWIT ASLI DARI SIMPLEMAN. Percayalah hal itu. Baca dulu utas KKN di Desa Penari di Twitter Simpleman, baik yang versi Widya dan versi Nur sebelum menonton filmnya. Semakin baik lagi ketika juga membaca versi adaptasi novelnya yang berhasil mengadaptasi cuitan-cuitan utas tersebut menjadi cerita novel yang cukup “layak”, tidak seperti adaptasi filmnya. Belum pernah membaca utasnya tapi nekat langsung menonton filmnya? Bersiaplah untuk bingung mengenai apa sebenarnya isi dari film tersebut, selain parade jumpscare sana sini di desa isekai.

Satu hal lagi. Jika anda sudah pernah menonton film KKN di Desa Penari ini, terlepas apakah anda senang atau kecewa dengan film ini, paling tidak anda sudah menjadi bagian dari sejarah ketika film ini terlah menorehkan sejarah sebagai film Indonesia terlaris sepanjang masa sejauh ini. Jadi apakah anda sudah termasuk dari hampir 9 juta anak manusia yang telah menjadi bagian dari sejarah ini?

Terakhir, apa sebenarnya pesan moral dari KKN di Desa Penari? Simpleman seringkali berujar bahwa ia menyebarkan cerita ini, hingga menerimanya untuk diadaptasi menjadi novel hingga film demi menyebarkan pesan moral bahwa kita senantiasa menjaga tata krama di manapun kita berada. Tapi jujur penulis lebih merasa bahwa pesan moral di sini adalah “kalau tuan rumah keberatan daerahnya dijadikan lokasi KKN, mungkin memang lebih baik KKN di tempat lain saja.”

KAORI Newsline | Oleh Dody Kusumanto

Dari Kaori Nusantara