Fukami e Ochiru Hodo ni

Anata wa Ikuru no nara~

-Koe, Tsukiko Amano


Kembali lagi dengan ulasan seri kesayangan saya yaitu seri gim horor kebanggaan KOEI TECMO GAMES, <sturdy>Fatal Frame</sturdy>. Yap, setelah seri kedua dan seri kelima yang sudah diulas kemarin, kali ini saya ingin mengulas seri ketiga yang berhasil menjadi seri favorit saya setelah seri kedua. Inilah Fatal Frame III: The Tormented!

Fatal Frame III: The Tormented atau yang dikenal dengan 零~刺青の聲~ (Zero ~Shisei no Koe~) adalah gim yang dirilis oleh Tecmo (kini Koei Tecmo) pada 28 Juli 2005 untuk versi originalnya (Jepang) dan versi Amerikanya dirilis pada 8 November di tahun yang sama, sedangkan untuk edisi Eropa dirilis pada 24 Februari 2006. Keisuke Kikuchi dan Makoto Shibata (notabene kreator seri gim ini) kembali menjadi sutradara dan produser untuk seri ketiga ini. Seri ketiga ini awalnya dirilis eksklusif di PS2, dan kemudian dirilis di PS3 yang bisa didapatkan melalu PS Shop.

Tema mengenai mimpi dan rumah masa kecil Shibata menjadi ide untuk hadirnya Fatal Frame III dengan cerita yang masih berhubungan dengan seri pertama dan seri kedua. Ceritanya berlatar pada tahun 1988 di bulan Desember (2 tahun setelah kejadian seri pertama dan 3-4 bulan sejak kejadian seri kedua). Ada tiga karakter yang dapat dimainkan dalam gim ini, yaitu Rei Kurosawa, seorang fotografer yang kehilangan tunangan (Yuu Asou) dalam kecelakaan mobil yang tak disengaja; Miku Hinasaki, gadis yang berumur 19 tahun dan bekerja sebagai asisten Rei yang kehilangan kakaknya dalam seri pertama; dan terakhir adalah Kei Amakura, paman dari pasangan kembar Mio dan Mayu yang sedang meneliti sebuah legenda.

Fatal Frame 3: The Tormented
Dari kiri ke kanan: Kei Amakura, Rei Kurosawa, dan Miku Hinasaki (Ⓒ Tecmo, LTD. 2005)

Cerita Fatal Frame III dimulai melalui sebuah legenda, di mana ketika seseorang tidak bisa melepas orang yang sudah meninggal mereka akan terjebak dalam mimpi dengan latar rumah besar dengan salju turun tak henti yang disebut dengan “Manor of Sleep (眠りの家)”, dan kemudian seorang gadis dengan tubuh penuh tato biru akan mengejar siapapun yang masuk ke dalam rumah besar itu. Hal ini pun terjadi kepada tiga karakter utama, Rei yang merasa bersalah karena meninggalnya Yuu, Miku yang ingin bertemu dengan kakaknya dan ingin menyelamatkannya, dan Kei yang akhirnya menjadi korban mimpi melalui Mio yang masih tidak terima dengan hilangnya Mayu.

Ehem, mungkin para yang membaca ini mungkin sudah merasa depresi dengan latar belakang para karakter dan gadis penuh tato biru itu sebenarnya cukup miris. Pembawaan cerita yang lebih singkat, padat, dan jelas menjadi poin utama. Dan mungkin saya juga terkena “kutukan” ini karena berbagai alasan yang terjadi di masa lalu.

Persiapan melawan musuh (Ⓒ Tecmo, LTD. 2005)

Dalam gim Fatal Frame III terdapat mekanisme kemampuan khusus para karakter yang juga membuat cara bermain di gim ini menjadi menarik dan menantang, seperti Rei dengan kemampuan ‘flash’ yang bisa melumpuhkan musuh selama beberapa detik, Miku dengan kemampuan double yang bisa memberikan injury lebih besar dari Rei atau Kei, dan Kei yang memiliki kemampuan lebih kuat dan fungsi ‘hide’ yang memberikan kemampuan untuk bersembunyi dari musuh. Hal ini juga berhubungan dengan kemampuan membasmi hantu (musuh) dari setiap karakter. Rei yang memiliki fungsi regular, Miku yang memiliki kemampuan basmi OP-OP, dan Kei yang membuat pemain (baca: saya) sangat kesal karena kemampuan Kei yang saat basmi hantu memakan waktu. Fungsi karakter inilah yang membuat ceritanya menjadi tidak membosankan dan juga membuat pemain greget.

Kyouka Kuze menyerang Rei (Ⓒ Tecmo, LTD. 2005)

Namun selain karakter, ada juga latar belakang cerita dari para hantu ini yang menjadi membuat pemain merasa “kasihan ya” atau “kenapa ada cerita seperti ini”,  seperti salah satu hantu dengan sebutan Wanita Menyisir Rambut atau Kyouka Kuze yang sering mengejar dan melawan Kei karena berbagai alasan dan Amane Kuze yang mengantarkan Miku ke tempat bertemu mendiang kakaknya. Tentu ada lawan utama alias final boss yang membuat hati tak kuat menahan emosi, yaitu gadis dengan tubuh penuh tato biru.

Mekanisme kamera di sini sama seperti seri-seri sebelumnya, namun secara keseluruhan gim ini cukup susah karena harus mencari objektif gim yang cukup rumit, baik latar denah rumah besar yang jadi latar gimnya, sidequest, dan juga hantu yang tampaknya harus “di-unlock” by way of sidequest. Fatal Frame III terbagi menjadi 14 chapter dengan dua ending. Ending kedua harus didapatkan setelah menyelesaikan gim ini sebanyak dua kali dan juga sebuah sidequest saat chapter Kei dimulai. Selain sidequest untuk ending tambahan, ada juga sidequest untuk membuka ruang terkunci dan melawan hantu baru. Untuk memahami cerita karakter, legenda, dan hantu yang ada di gimnya, terdapat fungsi catatan yang ditulis oleh Rei sendiri.

Musik dari Fatal Frame III ini pun tetap menggambarkan suasana seram, membuat pemain menjadi deg-degan atau bahkan terbawa suasana menyeramkannya. Selain itu, ada waktu di mana pemain harus mencari sebuah lilin atau purifying gentle yang bisa didapatkan di berbagai tempat dalam rumah besar tersebut, yang mecegah para karakter agar tidak dikejar-kejar oleh final bossnya yang membuat saya parno sendiri dalam memainkan gimnya (;¬∀¬)ハハハ…

Namun yang dapat dipetik dari gim ini adalah berusaha melepaskan mereka yang sudah tiada agar mereka dapat damai di alam sana dan semua kejadian pun memiliki arti tersendiri.

Tetapi mengapa cerita gim ini sangat depresi sekali?